Seandainya Bisa Diulang Kembali

Arsip Cerita, Arsip Ibu

Hamil itu memang pengalaman yang indah banget buat saya. Kalau ditanya kendalanya apa, kadang butuh beberapa saat untuk mikir, karena memang yang paling diinget yang indah-indah saja. Setelah baca cerita ini, saya jadi terinspirasi untuk menuliskan hal serupa. Sepertinya perlu dan menjadi pengingat saya dalam menjalani kehamilan adiknya Ilan nanti (aamiiin) dan semoga dapat bermanfaat untuk bumil dan calon bumil lainnya. Ya, saya akan membagi hal-hal apa saja yang saya sesali karena saya lakukan atau tidak lakukan selama Ilan di dalam rahim saya dan saat hari-hari pertama setelah kelahiran Ilan.

Alhamdulillah Allah mempercayakan Ilan di dalam rahim saya kurang lebih 1 bulan setelah kami menikah. Anugerah luar biasa dan tak terkira. Namun saya justru canggung dengan kehamilan saya saat itu, sesungguhnya saya bingung dan blank sekali. Alhasil saya intensif sekali berkutat dengan buku-buku kehamilan, browsing sana sini, hang out di forum-forum bumil, pokoknya melahap informasi sebanyak-banyaknya. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang saya sesali adalah, seharusnya saya memperkaya diri saya dengan informasi seputar kehamilan sebelum saya menikah, jadi tidak kejar tayang seperti saat itu.

Terlalu lama berkutat dengan berbagai pregnancy things membuat saya melewatkan yang seharusnya saya pelajari saat hamil, dan tentu sangat saya sesalkan. Saya lupa terlambat mempelajari tentang ASI dan menyusui. Saya tahu apa itu IMD, tetapi saya tidak menguasai tekniknya. Saya lalai membaca “IMD yang benar minimal 1 jam”,sehingga saya membiarkan saja perawat mengambil Ilan dari dada saya meski IMD belum 1 jam. Penyesalan terdalam saya di malam pertama kelahiran Ilan adalah, dengan santainya saya menolak rooming in saat perawat mengantar Ilan malam itu. (Maafkan Ibu ya Lan.. sungguh saat itu Ibu belum tahu betapa pentingnya rooming in itu *mewek*).

Saya bahkan terlambat untuk belajar bagaimana mengurus bayi baru lahir. Saya terdiam dan ingin menangis ketika keesokan paginya perawat mengantarkan Ilan. Saya tidak tahu bagaimana menggendong Ilan untuk saya susui. Pada akhirnya ketidaksiapan mengantarkan saya pada baby blues. Ya, seandainya bisa diulang, saya akan mencuri start mempelajari semua itu, tidak harus menunggu hasil testpack menunjukkan 2 garis.

Hal lainnya yang saya sesali adalah betapa mudahnya saya terbawa emosi. Saya marah, sedih, takut dan membiarkan emosi-emosi negatif menguasai saya. Seharusnya saya menekan ego saya dalam-dalam dan menomorsatukan nyawa yang sedang tumbuh dan berkembang di rahim saya. Happy mom, happy baby.

Sepertinya, saat menjalani kehamilan pola hidup saya juga kurang sehat. Terutama pola tidur dan makan. Saya sering begadang dan pilih-pilih makanan. Hanya mau makan yang saya suka, padahal yang saya suka kebanyakan bukan healthy food *sigh*. Kalau saja waktu bisa diputar, saya akan makan semua yang sehat dan bergizi. Mungkin Ilan juga ngga konsisten GTM kaya sekarang ini.. *nangis*. Selain masalah istirahat dan makan, saya juga jaraaaang sekali jalan pagi. Mungkin itu juga sebabnya saya tidak merasakan kontraksi sehingga harus diinduksi. Parahnya lagi, begitu malasnya saya “bergerak”, sehingga saya tidak pernah ikut senam hamil. Alhasil saat “tampil” di ruang bersalin saya kewalahan mengatur napas (baca: tidak tahu caranya) dan saya juga harus diberi tahu cara mengejan karena saya completely blind about that. Senam hamil ternyata perlu, karena meski saya tahu teorinya, kalau tidak pernah praktek ya percuma juga.

Dan saya menyesaaaal sekali tidak kurang mendokumentasikan kehamilan saya baik dalam bentuk jurnal kehamilan maupun foto. Ternyata hal tersebut penting sekali (buat saya sih iya). Saya menyesal tidak mendokumentasikan perubahan perut saya dari waktu ke waktu, juga menyesal tidak foto-foto cantik dengan bentuk perut yang bulat dan besar :D. Foto kehamilan yang saya punya cuma sekedar jeprat jepret iseng. Lebih menyesal lagi, tidak menuliskan perkembangan kehamilan saya. Padahal kan nantinya sangat berguna untuk saya baca ulang saat hamil kedua nanti (teteuuup). Errrrr, saya juga nyesel tidak foto bertiga (saya, Ilan, ayah Ilan) sesaat setelah melahirkan. Harusnya moment itu jadi foto keluarga kami yang pertama (foto itu penting banget ya bu? :D).

Seandainya bisa diulang kembali, saya akan menjalani kehamilan yang lebih sehat, lebih bahagia, lebih aktif bergerak, lebih berilmu dan lebih terdokumentasikan. Karena katanya tiap kehamilan itu beda-beda sensasinya, jadi kalau bisa setiap kehamilan dan kelahiran itu dicatat, didokumentasikan dan yang terpenting dinikmati :). Iiiiih nulis-nulis tentang hamil jadi kangen hamil *uuupps. Semoga Allah beri saya kesempatan untuk memperbaiki kekurangan saya di kehamilan yang pertama. Aamiiiiin…

4 thoughts on “Seandainya Bisa Diulang Kembali

  1. Bagus critanya ta…sangat brmanfaat. Tp jgn diliatin ilan nih tulisan,tar iri ma adikny.. Xixixxiii mski kliatan nyesel,tp ita dulu pasti slalu mmberi yg terbaik buat si buah hati…

    1. Barusan mikir.. mama dhea ki sopo haha.. iya mba yan, kesalahan di masa lalu justru menjadikan kita yang lebih baik di masa sekarang.. makane ga boleh kecolongan lagi. Ilan hrs dpt yg terbaik.. dhea juga.. semangat!

    1. aamiiiin.. tapi nanti tunggu Ilan weaning dulu hehe. Insya Allah. Sama2 ya mba Rika.

      *Btw, ini salah satu alesan saya takut komen saat blogwalking karena malu dikunjungin baliiiiik 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s